Kuntilanakpun Bisa Kaget
Malam itu, suasana di pinggiran desa Angkerasa begitu sunyi. Hanya suara jangkrik yang bersahutan dan gemerisik dedaunan tertiup angin. Namun, suasana hening itu segera terganggu oleh suara derap kaki yang kencang, disertai oleh embusan napas yang terengah-engah. Seorang pria, sebut saja namanya Budi, tengah berlari melintasi jalan setapak yang gelap gulita, ditemani hanya oleh sinar bulan yang pucat.
Budi bukanlah pria pemberani. Faktanya, dia lari karena baru saja melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Dengan napas tersengal, dia berhenti sejenak di bawah pohon beringin besar yang konon katanya angker, berharap bisa menenangkan diri.
Namun, baru saja ia mencoba mengatur napas, tiba-tiba Budi merasakan ada sesuatu yang aneh di belakangnya. Seperti ada yang mengawasinya. Perlahan-lahan, ia menoleh ke belakang, dan di sanalah ia melihatnya.
Di bawah bayangan beringin itu, berdirilah sosok perempuan berambut panjang, dengan gaun putih yang menjuntai hingga ke tanah. Wajahnya pucat, matanya besar dan hitam seperti bola bekel. Inilah sosok yang selama ini hanya ia dengar dari cerita-cerita horor neneknya—Kuntilanak.
Budi terkejut, tapi lebih terkejut lagi adalah Kuntilanak tersebut. Bagaimana tidak, biasanya manusia biasa tak akan bisa melihatnya kecuali dia ingin menampakkan diri. Tapi kali ini, Budi langsung menatap tepat ke arahnya seolah-olah dia bukanlah makhluk gaib, melainkan manusia biasa yang tak sengaja lewat.
Kuntilanak itu sontak terkejut, dan saking kagetnya, dia langsung mengeluarkan suara keras, "Astagaaaa! Kau bisa lihat aku?!"
Budi, yang awalnya ketakutan, mendadak heran. Kuntilanak ini, yang harusnya menyeramkan, malah terlihat panik. Dan saat ia masih dalam kebingungan, si Kuntilanak tiba-tiba mengeluarkan suara aneh. "Ih, ampun... Astaga... Terkejut... Terkejut..." gumamnya sambil menepuk-nepuk wajahnya sendiri.
Ternyata Kuntilanak ini latah! Budi yang tadinya gemetar ketakutan kini justru merasa geli. "Ehh... Kamu... Kenapa malah latah?" tanya Budi yang sudah tak bisa menahan tawanya.
"Sssst! Jangan tertawa! Aku kuntilanak, tahu!" sahut Kuntilanak itu sambil berusaha menjaga wibawanya, meskipun wajahnya masih memerah karena kaget.
Namun, Budi sudah tak bisa menahan tawa lagi. "Kuntilanak kok bisa latah? Wah, baru pertama kali aku dengar! Hahaha!"
Kuntilanak itu semakin panik. "Jangan ketawa! Aku... Aku marah nanti!" ancamnya, meskipun ancaman itu terdengar lemah. Malah, saat Budi terus tertawa, Kuntilanak itu ikut latah lagi, "Terkejut... Terkejut... Astaga, hentikan!"
Budi terus tertawa terbahak-bahak, sampai dia hampir terguling ke tanah. Sementara itu, Kuntilanak yang merasa dipermalukan tak bisa lagi menahan rasa malunya. Ia melayang mundur perlahan-lahan sambil masih terus menggumamkan kata-kata latahnya.
"Baiklah, aku pergi... Aku pergi... Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya!" katanya sebelum menghilang ke dalam kegelapan.
Budi, yang masih tertawa, hanya mengangguk sambil memegangi perutnya. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Kuntilanak yang begitu lucu. Sejak malam itu, setiap kali ia mendengar cerita horor tentang Kuntilanak, Budi hanya bisa tersenyum sendiri. Sebab, ia tahu rahasia besar yang mungkin tak banyak orang tahu—bahwa bahkan Kuntilanak sekalipun bisa latah saat kaget!
Dan sejak saat itu, Kuntilanak dari pohon beringin besar itu tidak pernah lagi muncul di hadapan manusia, mungkin karena malu atau mungkin karena takut tertawa sendiri setiap mengingat insiden malam itu.
Post a Comment
Post a Comment