| Gambar oleh Thomas Ulrich dari Pixabay |
Indonesia merupakan Negeri yang beraneka ragam budaya. Mulai dari Sabang sampai Merauke terdapat berbagai suku, bahasa, adat, yang membuat bangsa Indonesia menjadi salah satu daya tarik dan negara yang paling kaya akan budaya. Budaya adalah kerangka acuan perilaku bagi masyarakat pendukungnya yang berupa nilai-nilai (kebenaran, keindahan, keadilan, kemanusiaan, kebijaksanaan, dll) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk pandangan hidup manusia yang relatif menetap, dan dapat dilihat dari pilihan dari warga budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala, dan peristiwa kehidupan.
Pemikiran-pemikiran manusia yang terus berkembang dalam menciptakan teknologi untuk membantu, dan memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan, memberikan dampak besar terhadap budaya-budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini merupakan suatu hal yang tak bisa kita hindari, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, dan tidak hanya membantu dan mempermudah manusia, tetapi juga menawarkan cara-cara baru di dalam melakukan aktivitas-aktivitas tersebut sehingga dapat memengaruhi budaya masyarakat yang sudah tertanam sebelumnya.
Perkembangan teknologi ini tidak lepas dari prilaku konsumtif manusia dan sifat manusia yang tidak pernah puas. Sehingga inovasi-inovasi pun terus berkembang. Salah satu teknologi yang sedang booming di Indonesia adalah Smartphone. Menurut Gary B, Thomas J, dan Misty E, 2007, smartphone adalah telepon yang internet enabled yang biasanya menyediakan fungsi personal digital assistant (PDA), seperti fungsi kalender, buku agenda, buku alamat, kalkulator, dan catatan. Sedangkan dalam kamus Oxford online, smartphone adalah telepon yang memiliki kemampuan seperti komputer, biasanya memiliki layar yang besar dan sistem operasinya mampu menjalankan tujuan aplikasi-aplikasi yang umum.
Kemajuan teknologi smartphone yang semakin berkembang dengan dilengkapi aplikasi yang beragam, membuat masyarakat Indonesia ingin memilikinya, salah satu jenis smartphone adalah android. Android merupakan sistem operasi berbasis linux yang dirancang untuk perangkat seluler layar sentuh, seperti smartphone. Smartphone ini memiliki pengguna yang cukup banyak di Indonesia, karena kelebihan yang dimilikinya. Beragamnya aplikasi jejaring sosial, seperti facebook, twitter, dan Whatsapp memudahkan kita untuk berinteraksi sosial melalui dunia maya. Jika dilihat dari luar, tujuan penggunaan aplikasi jejaring sosial ini baik, yaitu untuk memudahkan dalam bersosialisasi. Namun, sosialisasi ini hanya berlangsung pada dunia maya tersebut, terkadang pada kenyataannya yang tadinya akrab di jejaring sosial justru pada kenyataannya mereka tidak saling berinteraksi seperti halnya pada jejaring sosial. Interaksi sosial di dunia nyata pun menjadi berkurang, masing-masing orang hanya sibuk dengan smartphone mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan dari Kent University di Chio seperti mematahkan hasil temuan sebelumnya yang menyatakan lebih aktif dalam jejaring sosial atau juga menggunakan ponsel dapat mengurangi perasaan terisolasi. Namun, seperti yang dikutip dari Dairy Mail (09/12), ternyata apa yang ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan itu bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya, dari hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa seseorang yang kecanduan texting atau juga lebih sering beraktivitas di jejaring sosial daripada kehidupan nyata lebih mudah tidak bahagia, terlalu pemikir, mudah cemas, dan memiliki ‘kewajiban’ yang pada logikanya tidak ada yang menyuruh atau mendapat keuntungan.
Hasil penelitian yang mengambil sample dari 500 orang, juga mengungkapkan bahwa menggunakan perangkat mobile secara konstan atau selalu terhubung dengan akun jejaring sosialnya, maka akan lebih memiliki stress lebih tinggi. Penelitian tersebut membuktikan bahwa banyak orang yang sibuk dengan smartphone mereka sendiri. Sehingga interaksi sosial pada kehidupan nyata pun sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Zaman sekarang, pada umumnya anak muda sudah menggunakan smartphone. Hal tersebut terlihat dari anak SD, SMP, SMA sampai mahasiswa perguruan tinggi yang selalu membawa smartphone ketika berpergian keluar rumah, pusat perbelanjaan, dan lain lain. Mereka selalu sibuk memantau smartphonenya, karena merasa hal tersebut telah menjadi sebuah kewajiban.
Anak-anak SD pun mulai menggunakan smartphone, karena dipegangi oleh orang tuanya. Padahal mereka tidak tahu apakah akan bermanfaat atau sebaliknya. Saat pulang sekolah biasanya dulu mereka berjalan bersama-sama pulang ke rumah masing-masing sambil bercanda, tertawa riang sehingga mereka begitu akrab satu sama lain. Namun, setelah mereka menggunakan smartphone, meskipun berjalan bersama-sama, tetapi interaksi teman satu sama lain menjadi berkurang. Perhatian mereka dengan lingkungan juga berkurang. Hal ini secara tak langsung telah merenggangkan hubungan sosial mereka satu sama lain. Hal tersebut juga berlaku dengan orang tuanya sendiri ataupun dengan lingkungan terdekatnya.
Anak-anak yang dulu sepulang sekolah selalu bermain bersama di lapangan, bermain petak umpet, bermain layang-layang, bermain kelereng, sekarang menjadi suatu fenomena yang jarang terlihat. Mereka seperti asyik dengan dunianya sendiri, hal tersebut terlihat dengan seringnya anak-anak bermain di kamarnya masing-masing sambil main game. Sehingga mereka pun semakin jarang bergaul dengan teman sebayanya. Hal tersebut juga menyebabkan budaya bangsa mulai hilang, seperti permainan anak-anak.
Kemajuan teknologi ini sangat berdampak langsung pada generasi muda, karena generasi muda cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi zaman sekarang. Lain halnya dengan orang tua, mereka sulit untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dikarenakan mereka sudah terbiasa dengan kehidupan lamanya dan kurangnya pendidikan pada masa-masa mudanya dahulu.
Setiap inovasi pasti diciptakan untuk tujuan membantu dalam kehidupan. Namun, kemajuan teknologi ini dikatakan bermata dua, karena memiliki sisi positif dan negatif. Hal ini menjadi suatu hal yang dilematis, di satu sisi kita tidak mungkin kita menutup diri dari perkembangan zaman untuk mempertahankan kebudayaan kita, karena kita membutuhkannya, di sisi lain kemajuan teknologi menyebabkan lunturnya budaya bangsa kita. Kita sebagai bangsa Indonesia pun dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus bisa mengendalikan teknologi dan memfilternya agar kebudayaan-kebudayaan kita tetap terjaga kearifannya dan kita tetap bisa mengikuti perkembangan zaman.
Post a Comment
Post a Comment